

Hujan yang turun kerap membawa persoalan tersendiri bagi jamaah Mushola Al-Ikhlas, Muktiharjo Lor, Kota Semarang. Air merembes melalui salah satu bagian dinding luar yang belum diplester hingga membuat cat di bagian dalam mengelupas. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian mahasiswa Himpunan Mahasiswa Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung (HMTKBG) Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech).
Berawal dari kunjungan sederhana dan percakapan bersama Ketua RW setempat, mahasiswa HMTKBG mengetahui kondisi yang dialami mushola yang masih digunakan masyarakat setiap hari tersebut. Dari sana, muncul keinginan untuk membantu melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertema “Mengabdi dengan Hati, Membangun dengan Aksi”.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 8 Agustus 2026 tersebut diwujudkan melalui pemlesteran dinding bagian luar mushola serta pengecatan ulang bagian dalam yang mengalami pengelupasan akibat kelembapan. Sebanyak 32 mahasiswa pengurus HMTKBG terlibat dalam pelaksanaan kegiatan bersama satu orang tukang, Ketua RW setempat, serta dosen Program Studi Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung (TKBG), Nofriani Surahman, S.T., M.T.
Pelaksanaan kegiatan juga mendapat dukungan pendanaan dari PLN.
Ketua HMTKBG, Destia Putri Mahanani, mengatakan pengalaman tersebut mengingatkan mahasiswa bahwa ilmu konstruksi memiliki manfaat yang lebih luas ketika diterapkan untuk menjawab kebutuhan di lingkungan sekitar.
“Bagi kami, ilmu konstruksi tidak seharusnya berhenti pada ruang kelas, gambar kerja, maupun berdirinya sebuah bangunan. Ilmu tersebut harus mampu hadir sebagai solusi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Destia.
Melalui kegiatan tersebut, HMTKBG berupaya menerjemahkan kompetensi mahasiswa Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung menjadi aksi yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Kami percaya bahwa keberhasilan mahasiswa Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung tidak hanya diukur dari seberapa kokoh bangunan yang mampu dirancang dan dibangun, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan melalui keilmuannya,” lanjutnya.
Bagi Cindy Nurhayati, Ketua Pelaksana PKM, proses tersebut menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Ia melihat kegiatan ini sebagai pengingat bahwa pengabdian tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
“Saya belajar bahwa mengabdi tidak selalu harus dimulai dari rencana yang rumit. Kadang cukup dengan mau datang, mendengarkan, dan bertanya apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ungkap Cindy.
Dari proses tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar mengaplikasikan keterampilan teknis, tetapi juga belajar berkoordinasi, bekerja dalam tim, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mulai dari menyiapkan alat dan bahan hingga pengerjaan di lapangan dilakukan bersama-sama.
Kehadiran mahasiswa pun mendapat sambutan baik dari masyarakat. Ketua RW setempat menyampaikan bahwa warga merasa senang dan terbantu karena persoalan rembes yang selama ini mengganggu kenyamanan beribadah, terutama saat hujan, dapat ditangani.
Sukarlan, salah satu tokoh masyarakat setempat, mengaku senang dapat bertemu dan bekerja bersama mahasiswa PUtech.
“Saya sangat bangga bisa bertemu dengan adik-adik dari Politeknik Pekerjaan Umum. Terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada warga kami. Semoga adik-adik semua semakin semangat dalam mengejar karier dan mencapai tujuan masing-masing,” ungkap Sukarlan.
Ia juga menyampaikan bahwa warga turut mengapresiasi kepedulian mahasiswa yang telah hadir dan membantu memperbaiki kondisi Mushola Al-Ikhlas.
“Saya sudah menyampaikan kepada warga bahwa kami sangat berterima kasih dan bangga atas kehadiran serta kepedulian adik-adik semua,” lanjutnya.
Bagi HMTKBG, pengalaman di Mushola Al-Ikhlas menjadi bagian dari perjalanan belajar yang berlangsung di luar ruang kelas. Ada ilmu yang diterapkan, ada kerja sama yang dibangun, dan ada manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Destia berharap langkah tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan. Menurutnya, PKM dapat menjadi bagian dari keberlanjutan pengabdian HMTKBG sekaligus ruang bagi mahasiswa untuk terus belajar dari masyarakat.
“Harapan kami, setiap ilmu yang kami pelajari memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu menghadirkan manfaat, menjawab kebutuhan, dan meninggalkan dampak yang berarti bagi lingkungan sekitar,” tuturnya.
Dosen Program Studi Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung (TKBG), Nofriani Surahman, S.T., M.T., melihat kegiatan tersebut sebagai bagian dari proses pembelajaran yang memberi pengalaman langsung kepada mahasiswa.
“Melalui PKM 2026 ini, mahasiswa mampu menjembatani ilmu teori dengan praktik nyata di lapangan, sehingga pengalaman belajar menjadi penerapan nyata, relevan, dan berdampak langsung bagi masyarakat,” ujar Nofriani.
Bagi Nofriani, perjumpaan mahasiswa dengan masyarakat juga menjadi ruang belajar yang tidak selalu ditemukan di dalam kelas. Mahasiswa berhadapan langsung dengan kebutuhan di lapangan, belajar berkoordinasi, bekerja bersama, sekaligus melihat bagaimana pengetahuan yang mereka miliki dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan sederhana yang dirasakan masyarakat. Diharapkan kegiatan positif seperti PKM ini juga dihadirkan oleh HMTKBG periode selanjutnya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa membangun tidak selalu tentang mendirikan sesuatu yang baru. Terkadang, membangun berarti hadir, mendengarkan, dan membantu membuat ruang yang sederhana menjadi lebih nyaman bagi mereka yang menggunakannya.
Rangkaian kegiatan PKM HMTKBG di Mushola Al-Ikhlas dapat disaksikan melalui video recap yang tersedia di YouTube HMTKBG berikut ini.