PUtech

Akrab dan Bijak dalam Relasi, Menjaga Integritas di Lingkungan PUtech

Satu kelompok tugas, satu proyek, atau satu organisasi bisa menjadi awal sebuah pertemanan. Obrolan yang semula formal berubah menjadi akrab. Perhatian pun terkadang terasa lebih dari sekadar hubungan rekan kerja atau teman kuliah.

Kedekatan seperti ini wajar. Sebagai makhluk sosial, kita membutuhkan hubungan dengan orang lain. Namun, ada hal yang perlu dijaga: sampai di mana kedekatan itu tetap sehat dan tidak melampaui batas?

Bagi sivitas akademika Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech), pertanyaan ini penting untuk direnungkan. Sebagai institusi pendidikan vokasi yang menyiapkan calon tenaga profesional di bidang infrastruktur, PUtech tidak hanya membekali mahasiswa dengan keterampilan teknis, tetapi juga nilai integritas, etika, dan kemampuan membangun relasi yang sehat.

Kedekatan Itu Wajar, Asal Tahu Batas

Unit Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPKPT) dan Care Support Treatment (CST) PUtech mengajak pegawai dan mahasiswa untuk lebih bijak dalam membangun hubungan interpersonal.

Pesannya sederhana: kedekatan merupakan bagian dari interaksi sosial, tetapi tetap perlu disertai kesadaran akan batas diri, penghormatan terhadap orang lain, dan tanggung jawab atas setiap tindakan.

Upaya pencegahan di lingkungan kampus dan kerja juga perlu mencakup berbagai persoalan relasi, termasuk perilaku yang dapat merusak kepercayaan dan komitmen, seperti perselingkuhan. Sebab, hubungan interpersonal yang tidak sehat dapat memengaruhi kenyamanan dan kepercayaan di lingkungan bersama.

Ada empat hal yang dapat menjadi pegangan dalam membangun relasi yang sehat.

  1. Bangun kedekatan secara wajar. Jalin keakraban tanpa membuat diri sendiri atau orang lain merasa tertekan maupun tidak nyaman.

  2. Jaga kepercayaan dan komitmen. Kedekatan dengan orang lain perlu tetap menghormati komitmen yang telah dibangun dalam hubungan pribadi maupun profesional.

  3. Pilih lingkungan pergaulan yang positif. Lingkungan pertemanan yang sehat membantu kita menjaga sikap dan mengambil keputusan dengan bijak.

  4. Kenali tanda-tanda awal. Perhatikan ketika komunikasi, perhatian, atau keterikatan emosional mulai melampaui batas yang semestinya.

Poin terakhir kerap luput dari perhatian. Pelanggaran batas tidak selalu bermula dari tindakan besar. Terkadang, semuanya berawal dari percakapan yang semakin larut, perhatian yang semakin eksklusif, atau kebiasaan berbagi cerita pribadi secara berlebihan. Jika terus dibiarkan, perilaku tersebut bisa terasa biasa meskipun perlahan menggeser batas yang seharusnya dijaga.

Menghormati Batas Diri dan Orang Lain

Menjaga batas bukan semata-mata persoalan perasaan atau komitmen dalam hubungan. Hal ini juga berkaitan dengan cara kita memperlakukan dan menghormati orang lain.

Dalam Sosialisasi Satgas PPKPT di Auditorium Soejono Sosrodarsono, Kampus II PUtech, Jumat (22/5), Dr. Cicilia Tanti Utami, M.A., Psikolog, dari Universitas Katolik Soegijapranata Semarang menjelaskan berbagai bentuk kekerasan yang dapat terjadi di lingkungan pendidikan maupun kerja.

Salah satunya adalah perundungan atau bullying, yang ditandai dengan perilaku menyakiti, terjadi berulang kali, dan melibatkan ketimpangan kekuatan atau relasi kuasa. Dalam situasi ini, terdapat pelaku, korban, dan orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Sikap para saksi juga berpengaruh terhadap keberlanjutan perundungan, terlebih ketika perilaku itu dibiarkan atau dianggap lumrah.

Di era digital, perundungan dapat berlanjut melalui media sosial, pesan, maupun platform daring lainnya dalam bentuk cyberbullying.

Sementara itu, kekerasan seksual tidak selalu berupa kontak fisik. Tindakan yang merendahkan atau mengeksploitasi seseorang secara seksual tanpa persetujuan juga perlu diwaspadai. Bentuknya dapat berupa komentar bernuansa seksual, lelucon vulgar, tatapan yang melecehkan, hingga pengiriman atau penyebaran gambar tanpa izin.

Karena itu, alasan “cuma bercanda” tidak serta-merta membenarkan suatu tindakan. Hal yang dianggap lucu oleh seseorang bisa membuat orang lain merasa direndahkan, terancam, atau tidak aman.

Ketika Relasi Kuasa Membuat Seseorang Sulit Menolak

Persoalan batas menjadi semakin kompleks ketika hubungan melibatkan relasi kuasa, yaitu kondisi ketika satu pihak memiliki posisi atau pengaruh lebih besar dibandingkan pihak lainnya.

Di kampus maupun tempat kerja, situasi ini dapat ditemukan dalam hubungan senior dan junior, atasan dan bawahan, atau pihak yang memiliki kewenangan dengan pihak yang bergantung pada keputusan mereka.

Ketimpangan tersebut dapat membuat seseorang merasa sulit menolak, menyampaikan keberatan, atau melaporkan perlakuan yang membuatnya tidak nyaman. Kekhawatiran terhadap nilai, pekerjaan, kesempatan, maupun penilaian orang lain bisa menjadi penghalang untuk bersuara.

Dalam situasi seperti ini, pihak yang memiliki posisi lebih kuat perlu memahami tanggung jawabnya. Jabatan, senioritas, maupun kewenangan tidak boleh digunakan untuk menekan orang lain atau mengabaikan batas yang telah ditetapkan.

Dampaknya Bisa Meluas

Pelanggaran batas bukan persoalan sepele. Dampaknya dapat memengaruhi kondisi psikologis, hubungan sosial, hingga aktivitas sehari-hari seseorang.

Dalam paparannya, Dr. Cicilia menjelaskan bahwa korban dapat mengalami kecemasan, depresi, dan ketakutan. Sebagian juga memilih menarik diri dari keluarga atau teman, kehilangan kepercayaan diri, hingga merasa tidak aman ketika beraktivitas di ruang publik maupun ruang digital.

Bagi mahasiswa, kondisi tersebut dapat mengganggu konsentrasi dan proses belajar. Di lingkungan kerja, dampaknya dapat merembet pada hubungan antarrekan, kenyamanan bekerja, dan kepercayaan dalam tim.

Karena itu, menciptakan lingkungan yang aman bukan hanya tanggung jawab pihak yang mengalami atau menyaksikan kekerasan. Setiap orang memiliki peran untuk mencegah perilaku yang melanggar batas dan membangun interaksi yang saling menghormati.

Langkah Sederhana untuk Mencegah Kekerasan

Membangun relasi yang sehat dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Beberapa langkah berikut dapat diterapkan di lingkungan kampus maupun tempat kerja.

  • Tegaskan batas diri. Setiap orang berhak menentukan tindakan apa yang dapat diterima dan menyampaikan keberatan ketika merasa tidak nyaman.

  • Jaga informasi pribadi. Pilih dengan bijak hal-hal yang dibagikan kepada orang lain, terutama jika belum memiliki kepercayaan yang cukup.

  • Jangan menormalisasi candaan seksual. Hindari ikut menertawakan atau membiarkan ucapan yang merendahkan dan membuat orang lain tidak nyaman.

  • Jaga integritas dan komitmen. Terapkan sikap saling menghormati, baik dalam hubungan pribadi maupun profesional.

Apabila mengalami atau mengetahui dugaan kekerasan, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Dr. Cicilia menyarankan agar kita memastikan keselamatan korban, mengamankan bukti yang tersedia, mendengarkan tanpa menghakimi atau mengorek cerita secara berlebihan, tidak menyalahkan korban, serta membantu menghubungkannya dengan pihak yang dapat memberikan pendampingan.

Dukungan yang tepat dapat membantu korban merasa lebih aman untuk mencari pertolongan.

Ada Aturan dan Konsekuensi yang Perlu Dipahami

Pelanggaran batas juga dapat berkaitan dengan pelanggaran hukum dan peraturan yang berlaku. Dalam paparannya, Dr. Cicilia menyinggung sejumlah landasan hukum, di antaranya Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, peraturan mengenai perlindungan anak, serta Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

Ketentuan yang relevan perlu dipahami agar sivitas akademika mengetahui hak, tanggung jawab, serta konsekuensi dari tindakan yang melanggar aturan. Dengan demikian, upaya pencegahan tidak berhenti pada imbauan moral, tetapi juga didukung oleh mekanisme penanganan yang sesuai.

PUtech Menyediakan Ruang untuk Mencari Bantuan

Untuk mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, PUtech memiliki Unit PPKPT dan CST sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanganan kekerasan serta pemberian dukungan bagi sivitas akademika.

Direktur Politeknik Pekerjaan Umum, Ir. Brawijaya, S.E., M.Eng.I.E., MSCE, Ph.D., IPU, ASEAN Eng., menegaskan bahwa keberadaan Unit PPKPT dan CST bukan semata-mata untuk memenuhi ketentuan regulasi, melainkan juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman.

“Perguruan tinggi harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh sivitas akademika untuk belajar, berkembang, dan berkarya. Karena itu, pencegahan dan penanganan kekerasan harus menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Unit PPKPT dan CST PUtech, Puspita Karisma Kurniasani, S.T., M.Ars., menyampaikan bahwa menjaga batas perlu menjadi kesadaran bersama, baik dalam hubungan pribadi maupun profesional.

“Kedekatan adalah bagian dari relasi kerja, dan itu wajar. Namun, setiap kedekatan tetap membutuhkan batas. Pencegahan di PUtech tidak hanya menyasar kekerasan terhadap mahasiswa, tetapi juga persoalan yang dialami pegawai, termasuk perselingkuhan, karena semuanya berkaitan dengan integritas, etika, dan hubungan interpersonal yang sehat di lingkungan kita,” ujarnya.

Ia mengajak seluruh pegawai dan mahasiswa untuk membangun kedekatan secara wajar, menjaga kepercayaan dan komitmen, memilih lingkungan pergaulan yang positif, serta peka terhadap perubahan dalam komunikasi dan keterikatan emosional yang mulai melampaui batas.

Bagi sivitas akademika yang mengalami atau mengetahui dugaan kekerasan, PUtech menyediakan saluran pengaduan melalui:

  • Formulir aduan: bit.ly/FormAduanKekerasanPUTech

  • Pengaduan langsung: Gedung Student Centre, Kampus II PUtech.

Melapor bukanlah tanda kelemahan. Langkah tersebut dapat menjadi upaya untuk melindungi diri sendiri, membantu orang lain, dan mencegah kejadian serupa terulang.

Pada akhirnya, lingkungan yang sehat dibangun dari cara setiap orang memperlakukan sesamanya. Kita bisa tetap akrab tanpa mengabaikan batas, menjalin hubungan tanpa merusak kepercayaan, serta bersikap profesional dengan tetap menghormati orang lain.

Akrab dalam relasi, bijak dalam bertindak, dan teguh menjaga komitmen. Semua dimulai dari diri sendiri, untuk PUtech yang lebih aman dan sehat.