



Mahasiswa Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech) mengasah keterampilan teknis melalui praktikum Bekisting Sistem pada mata kuliah Workshop Bekisting dan Perancah. Materi tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang diberikan kepada mahasiswa di berbagai program studi sesuai dengan kurikulum dan kompetensi yang dikembangkan di PUtech.
Kegiatan yang berlangsung di Workshop PUtech tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal secara langsung komponen, metode pemasangan, hingga penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam penggunaan bekisting sistem.
Salah satu mahasiswa yang mengikuti pembelajaran tersebut, Afdan dari Program Studi Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung (TKBG), mengatakan praktikum menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menghubungkan pemahaman yang diperoleh di kelas dengan proses pengerjaan di lapangan.
“Melalui praktikum ini, kami belajar memahami komponen bekisting, cara pemasangan bekisting sistem, serta memastikan bekisting dapat terpasang dengan aman dan tepat,” ujar Afdan.
Mahasiswa TKBG lainnya, Fila, menambahkan bahwa penerapan K3 menjadi bagian penting dalam setiap tahapan praktik. Menurutnya, pembiasaan terhadap prosedur keselamatan perlu dilakukan sejak mahasiswa berada di lingkungan pendidikan vokasi.
“Di Politeknik Pekerjaan Umum, kami memastikan keselamatan dan kesehatan kerja menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan praktik,” kata Fila.
Bekisting sistem merupakan salah satu metode yang digunakan untuk membentuk struktur beton sesuai dengan dimensi dan bentuk yang direncanakan. Sistem ini menggunakan komponen modular yang dapat dirakit, dibongkar, dan digunakan kembali, sehingga mendukung efisiensi waktu maupun penggunaan material dalam pekerjaan konstruksi. Penerapannya banyak dijumpai pada pekerjaan struktur dengan kebutuhan bentuk dan dimensi yang berulang, termasuk pada pembangunan gedung bertingkat.
Bagi mahasiswa, pengalaman mempraktikkan bekisting sistem secara langsung memberikan gambaran mengenai bagaimana suatu metode konstruksi diterapkan dalam kondisi kerja yang sesungguhnya. Mahasiswa dapat memahami bahwa proses pemasangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan merakit komponen, tetapi juga membutuhkan ketelitian dalam membaca gambar kerja, memastikan posisi dan dimensi, menerapkan prosedur K3, serta bekerja secara terstruktur dalam tim.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk mengenali situasi dan tuntutan pekerjaan konstruksi di lapangan. Melalui pembelajaran berbasis praktik, mahasiswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih utuh mengenai proses kerja konstruksi sekaligus kesiapan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh ketika terlibat dalam pekerjaan di dunia industri.