PUtech

Cerita Dua Mahasiswa PUtech di Balik Pembangunan Jalan Tol Akses Patimban

Bagi sebagian mahasiswa, magang hanyalah syarat kelulusan. Namun tidak demikian bagi Antono Wijayanto dan Elisabeth Vanessa, dua mahasiswa Program Studi Teknologi Konstruksi Jalan dan Jembatan, Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech). Selama enam bulan terakhir, keduanya menimba ilmu langsung di salah satu proyek infrastruktur strategis nasional: Patimban Access Toll Road Construction Project Package 3, yang berlokasi di Kabupaten Subang, Jawa Barat, dan dikerjakan melalui Kerja Sama Operasi (Joint Operation) antara PT Hutama Karya (Persero) Tbk dan PT Jaya Konstruksi Manggala Pratama (Persero) Tbk.

Program magang ini difasilitasi langsung oleh kampus. Baik Anton maupun Elisabeth mengaku sejak awal tertarik karena skala dan kompleksitas proyek tersebut. Bagi Anton, keterlibatan dua kontraktor BUMN besar dalam satu proyek menjadi kesempatan langka untuk menyerap metode kerja modern dari sumber yang beragam. Elisabeth pun beralasan serupa — ia ingin mempelajari langsung bagaimana metode penanganan konstruksi diterapkan di lapangan, bukan sekadar dari buku.

Berpindah Divisi, Memperkaya Perspektif

Yang menarik, keduanya tidak hanya ditempatkan di satu divisi saja. Anton mendapat kesempatan terjun ke lima divisi utama: Quantity Surveyor (QS), Quality Control (QC), Project Controls, Procurement, hingga Health, Safety, and Environment (HSE). Di divisi QS, ia mengerjakan checklist pembesian, rekap data produksi half slab, hingga dokumentasi joint survey. Di QC, ia terlibat dalam serangkaian pengujian laboratorium dan lapangan. Mulai dari uji kadar air, sand cone, California Bearing Ratio, hingga Dynamic Cone Penetration. Sementara di Project Controls, ia belajar menyusun Weekly Work Plan dan menerapkan prinsip lean construction.

Elisabeth, yang ditempatkan utama di divisi Quantity Surveyor, juga mendapat pengalaman lintas divisi di QC, HSE, surveyor, dan Scheduler. Tugas hariannya meliputi checklist pembesian untuk elemen struktur seperti pile head, half slab, top slab, dan barrier, pemantauan progres pekerjaan, input data ke sistem SIMPRO, hingga pengujian slump flow.

“Yang paling berkesan adalah saat terlibat dalam pengamatan pekerjaan stressing pada Prestressed Concrete U-Girder. Melihat langsung proses penarikan tendon dengan kontrol elongasi yang sangat presisi itu membuka wawasan saya betapa detailnya aspek teknis yang harus dijaga agar struktur jembatan tetap aman,” kenang Elisabeth.

Anton punya momen tersendiri yang membekas: kunjungan langsung ke quarry di daerah Purwakarta untuk mengecek kesesuaian standar material Base Coarse A dan B. Ia juga sempat menyaksikan penerapan teknologi Load Scanner — sistem berbasis radar yang mengotomatisasi perhitungan volume material pada truk.

“Sangat membuka mata saya tentang modernisasi dunia konstruksi saat ini,” ujarnya.

Ketika Teori Kuliah Bertemu Kenyataan Mega Proyek

Keduanya sepakat bahwa pengalaman magang mengubah cara mereka memandang ilmu yang dipelajari di kampus. Elisabeth menyebut, di lapangan ia belajar berkomunikasi dengan berbagai pihak  dari mandor hingga konsultan serta menangani material yang tidak memenuhi standar secara profesional. Ia menekankan bahwa kemampuan membaca gambar kerja (shop drawing) menjadi keterampilan paling krusial yang ia dapat dari bangku kuliah, karena menjadi dasar dalam mengawasi dimensi, detail pembesian, hingga posisi struktur di lapangan.

Shop drawing (gambar kerja) adalah gambar teknis detail yang dibuat oleh kontraktor atau subkontraktor berdasarkan desain perencana. Berfungsi sebagai pedoman atau acuan utama pelaksanaan di lapangan, dokumen ini memastikan setiap elemen konstruksi dibangun sesuai standar dan spesifikasi yang ditentukan.

Anton menambahkan pengalaman lain: bagaimana berkomunikasi dan bersurat secara profesional dengan pihak pemerintahan, termasuk Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Ia juga merasakan langsung manfaat rasio praktik 70% yang diterapkan PUtech. “Kami tidak hanya sekadar tahu rumus di atas kertas, tetapi sudah terbiasa memegang alat, memahami alur kerja material, dan terbiasa dengan disiplin kerja keras, sehingga saat diterjunkan langsung ke proyek skala besar seperti Patimban, kami bisa cepat beradaptasi,” katanya.

Perubahan yang Terasa hingga ke Diri Sendiri

Bagi Elisabeth, magang membuatnya menjadi pribadi yang lebih kritis. Tidak melihat “bagaimana” suatu pekerjaan dilakukan, tetapi juga mempertanyakan “mengapa” metode tersebut dipilih dan apa dampaknya bagi keamanan struktur jangka panjang. Ia mengaku bangga ketika data hasil pengawasan lapangan yang ia olah dapat membantu tim melihat progres pekerjaan secara jelas. 

Anton pun merasakan perubahan serupa: ia menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, dan berpikir solutif. Pencapaian yang paling ia banggakan adalah ketika laporan mingguan dan draf dokumen administratif yang ia susun diakui kelayakannya, serta dipercaya turut menyusun Method Statement Finishing Barrier and Pipe Drainase yang akan direalisasikan di lapangan.

Pesan untuk Adik Tingkat

Menutup kisah magang mereka, baik Anton maupun Elisabeth memiliki pesan senada untuk mahasiswa PUtech lainnya: jangan takut turun langsung ke lapangan.

“Jangan ragu untuk banyak bertanya dan sesering mungkin turun langsung ke lapangan. Magang itu waktu yang singkat, jadi manfaatkanlah setiap momen untuk melihat bagaimana pekerjaan di lapangan benar-benar dilakukan, sekecil apa pun itu pasti ada ilmunya,” pesan Elisabeth.

Anton menambahkan semangat serupa dengan gaya khasnya: “Maksimalkan setiap jam praktik dan kuliah di PUtech dengan serius, pelajari semua hal terutama penguasaan software dan pemahaman spesifikasi teknis. Jangan pernah ragu untuk bertanya atau turun langsung ke lumpur, dan tunjukkan talenta kita dari PUtech yang tangguh dan unggul!”

Bagi keduanya, satu kalimat cukup untuk merangkum enam bulan pengalaman di Patimban Access Toll Road Construction Project Package 3. Elisabeth menyebutnya sebagai perjalanan luar biasa, tempat teori di kelas akhirnya benar-benar “hidup”. Sementara Anton menggambarkannya sebagai jembatan terbaik yang menghubungkan teori ruang kelas dengan aksi nyata profesional di megaproyek infrastruktur nasional.