PUtech

Penelitian Beton Berbasis Tiga Limbah Industri Bawa Mahasiswa TKBG PUtech Jadi Juara Nasional

Mahasiswa Program Studi Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung (TKBG) Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Tim Campur Aduk_GENTAGA berhasil meraih Juara 1 pada Clash of Civil (COC) 2.0 National Innovation Concrete Competition yang diselenggarakan oleh Universitas 17 Agustus 1945 (UTA’45) Jakarta.

Tim yang beranggotakan Fauzan Sidiq, Fahmi Dharmawan, dan Kirana Fahdma Z. A. tersebut berhasil menjadi yang terbaik melalui karya tulis ilmiah berjudul “THREE-WASTE RESILIENT SCC” di bawah bimbingan Robi Fernando, S.T., M.T.

Melalui karya tersebut, tim mengembangkan inovasi Self-Compacting Concrete (SCC) dengan memanfaatkan tiga jenis limbah industri, yakni serbuk kaca sebagai substitusi agregat halus, fly ash sebagai substitusi sebagian semen, serta limbah Glass Fiber Reinforced Polymer (GFRP) dari PT Kuria Komposit Teknologi Indonesia sebagai substitusi agregat kasar. Inovasi ini dirancang untuk menghasilkan beton dengan workability tinggi dan kuat tekan yang optimal, sekaligus mendukung pembangunan infrastruktur berkelanjutan melalui pengurangan limbah industri, efisiensi penggunaan material alam, serta penerapan konsep circular economy.

Pengembangan inovasi tersebut turut didukung oleh kolaborasi antara PUtech dan PT Kuria Komposit Teknologi Indonesia yang telah terjalin melalui kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengembangan. Melalui kemitraan ini, mahasiswa memperoleh akses terhadap material industri sebagai bahan penelitian, sehingga gagasan yang mereka kembangkan dapat diuji dan disempurnakan melalui proses riset. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan industri dalam mendorong lahirnya inovasi yang relevan dengan kebutuhan sektor konstruksi.

Di balik keberhasilan tersebut, tim menghadapi berbagai tantangan, mulai dari proses mengolah limbah industri menjadi material yang memenuhi standar performa beton hingga menjaga kekompakan di tengah padatnya aktivitas perkuliahan.

Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah bagaimana mengubah limbah industri yang sebelumnya hanya dianggap sebagai sisa produksi menjadi sebuah inovasi beton yang memiliki nilai tambah serta berpotensi mendukung pembangunan infrastruktur berkelanjutan. Proses tersebut membutuhkan banyak kajian, percobaan di laboratorium, dan evaluasi agar material limbah tetap mampu menghasilkan beton dengan performa yang baik,” ujar tim.

Selain tantangan teknis, koordinasi antaranggota juga menjadi kunci keberhasilan mereka. Dengan kesibukan akademik yang berbeda-beda, mereka harus benar-benar membangun komunikasi yang solid, saling percaya, dan punya komitmen yang sama supaya penelitian bisa berjalan lancar.

Fauzan Sidiq mengaku kemenangan ini adalah hasil dari perjuangan panjang yang tidak mudah.

Kesan saya tentu sangat membahagiakan karena semua perjuangan akhirnya terbayar dengan raihan Juara 1. Kami harus bolak-balik ke PT Kuria untuk mengambil material, menjalani banyak penelitian di laboratorium, sekaligus membagi waktu dengan perkuliahan. Semua proses itu akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan,” tuturnya.

Fauzan berharap inovasi THREE-WASTE RESILIENT SCC tidak hanya berhenti di ajang kompetisi, tetapi dapat terus dikembangkan hingga memberikan manfaat yang lebih luas, untuk mendukung upaya industri menuju target zero waste.

Senada dengan itu, Kirana mengaku bersyukur atas capaian yang berhasil diraih pada kompetisi pertama yang diikuti tim mereka.

Alhamdulillah, sangat bersyukur dan sekaligus bangga bisa meraih Juara 1 di lomba pertama tim kami. Semoga prestasi ini menjadi motivasi untuk terus berkembang, meningkatkan kompetensi, dan mengharumkan nama Politeknik Pekerjaan Umum serta Program Studi TKBG di tingkat regional maupun nasional, ujarnya.

Bagi Fahmi, pengalaman mengikuti kompetisi ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya keberanian mencoba dan kemampuan mengelola waktu.

Kami harus membagi waktu antara kewajiban perkuliahan dan persiapan lomba. Tidak mudah menjaga keseimbangan di tengah kesibukan tersebut, tetapi semua usaha, kerja keras, dan pengorbanan waktu akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Saya berharap pengalaman ini dapat menjadi motivasi bagi teman-teman lainnya untuk terus berkembang, berani mengambil tantangan, dan meraih prestasi yang lebih tinggi di masa depan,” ungkapnya.

Prestasi yang diraih Tim Campur Aduk_GENTAGA menjadi bukti bahwa mahasiswa PUtech tidak hanya dibekali kompetensi vokasi di bidang konstruksi, tetapi juga didorong untuk menghasilkan inovasi yang menjawab tantangan industri dan pembangunan berkelanjutan. Dukungan fasilitas yang mumpuni serta ekosistem pembelajaran yang terhubung dengan dunia industri membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan riset yang aplikatif, sehingga karya yang dihasilkan tidak hanya berdaya saing di ajang kompetisi, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan sektor konstruksi di Indonesia.