




Program Studi Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung (TKBG) Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech) menyelenggarakan Kuliah Tamu Mata Kuliah Tata Lingkungan Bangunan Gedung pada Jumat (29/5) di Ruang Mini Theater Workshop D2 Hidrolika Kampus II PUtech. Kegiatan ini menghadirkan akademisi dan praktisi untuk membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai peran tata ruang serta mitigasi risiko kebakaran dalam mewujudkan bangunan gedung yang aman dan berkelanjutan.
Kuliah tamu dibuka oleh Ketua Program Studi TKBG, Dr. Raditya Hari Murti, S.T., M.Sc., M.T., yang menekankan pentingnya mahasiswa memahami tantangan nyata di dunia konstruksi, tidak hanya dari aspek teknis pembangunan, tetapi juga dari sisi keselamatan bangunan dan kebijakan tata ruang.
Pada sesi pertama, Reny Yesiana, S.T., M.T. dari Sekolah Vokasi Perencanaan Tata Ruang dan Pertanahan Universitas Diponegoro menyampaikan materi “Kebijakan Rencana Kota dalam Perlindungan Bangunan Gedung.” Melalui materi tersebut, mahasiswa diajak memahami bagaimana kebijakan tata ruang, kesesuaian pembangunan dengan RTRW dan RDTR, serta pengendalian pemanfaatan ruang berkontribusi dalam menciptakan lingkungan binaan yang tertib, aman, dan berkelanjutan.
Sementara itu, sesi kedua menghadirkan Arief Wicaksono, S.T., M.M., QRMO, Assistant Vice President – Risk Management Services PT IBS Insurance Broking Service, yang membawakan materi “Mitigasi Risiko Kebakaran pada Bangunan Gedung.” Berbekal pengalaman profesionalnya di bidang risk engineering dan insurance, Arief membagikan berbagai temuan lapangan terkait perangkat proteksi kebakaran pada bangunan gedung.
Dalam pemaparannya, Arief menjelaskan bahwa masih terdapat kesenjangan antara kepatuhan administratif dan kondisi aktual sistem proteksi kebakaran di lapangan. Tidak sedikit bangunan yang telah memenuhi persyaratan dokumen dan sertifikasi, namun perangkat seperti hidran, sprinkler, maupun pompa kebakaran belum tentu berfungsi optimal saat kondisi darurat terjadi.
Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa TKBG memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai pentingnya integrasi antara kebijakan tata ruang, manajemen risiko, dan sistem keselamatan bangunan. Wawasan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa dalam merancang dan membangun lingkungan binaan yang tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga aman, tangguh, dan berkelanjutan.