PUtech

Penelitian

Kajian Perencanaan Penataan Kawasan PesisirBerbasis Mitigasi Bencana Dan PenguatanKarakteristik Lokal Di Desa Sriwulan, Demak

Desa Sriwulan di Kabupaten Demak merupakan kawasan pesisir yang menghadapi tekanan lingkungan serius akibat abrasi, banjir rob, dan degradasi ekosistem pesisir. Dampak perubahan iklim dan penurunan muka tanah telah memperburuk kondisi biofisik kawasan, mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, serta menurunkan kualitas lingkungan permukiman. Masyarakat pesisir yang sebagian besar bergantung pada sektor perikanan dan tambak kini berada dalam kondisi rentan terhadap gangguan lingkungan dan ketidakpastian ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arah perencanaan kawasan pesisir rawan bencana melalui tiga sasaran utama: menganalisis kondisi eksisting kawasan pesisir terkait risiko bencana, tekanan lingkungan, dan potensi ekonomi lokal; menyusun strategi mitigasi dan adaptasi berbasis kebutuhan masyarakat; serta merancang konsep penataan kawasan pesisir yang integratif secara spasial, sosial, dan ekonomi. Hasil analisis terhadap kondisi eksisting yang diperkuat dengan pengukuran menggunakan facility condition index dan importance– performance analysis (IPA) menunjukkan bahwa kinerja infrastruktur dan pelayanan lingkungan masih tergolong sedang hingga rendah, terutama pada aspek sistem drainase, pengelolaan air, dan aksesibilitas yang kerap terganggu oleh genangan. Temuan ini mengindikasikan bahwa permasalahan utama di kawasan pesisir Sriwulan bukan hanya pada lemahnya infrastruktur teknis, tetapi juga pada ketidakterpaduan antara sistem ekologis, fisik, dan sosial yang membentuk daya lenting kawasan secara keseluruhan. Sebagai tindak lanjut, penelitian ini merumuskan tiga pilar pengembangan utama untuk mewujudkan kawasan pesisir yang adaptif dan berkelanjutan, yaitu: (1) penguatan sistem pengendalian air terpadu (resilient infrastructure), (2) restorasi ekologi pesisir (eco-based protection), dan (3) peningkatan ketahanan sosial-ekonomi masyarakat (community resilience). Ketiga pilar tersebut diintegrasikan dalam kerangka Eco-Infrastructure Resilience dan Community-Based Coastal Management (CBCM) yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengelolaan pesisir. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perencanaan pesisir yang tidak hanya berorientasi pada mitigasi bencana, tetapi juga pada pembangunan ekosistem sosial-ekologis yang tangguh dan berkelanjutan.