

Menjelang menyelesaikan masa studi, ada satu hal yang perlu dibawa mahasiswa selain ijazah: keyakinan bahwa ilmu dan keterampilan yang dipelajari selama di kampus benar-benar siap digunakan. Bagi mahasiswa tingkat akhir Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech), persiapan tersebut diperkuat melalui Pemberian Kompetensi Tambahan (PKT) dan Uji Sertifikasi Kompetensi Kerja (SKK) Tahun Akademik 2025/2026.
Rangkaian kegiatan Uji Sertifikasi yang diselenggarakan selama tiga hari yakni pada 26-28 Agustus 2026 ini dibuka oleh Wakil Direktur II Bidang Umum Politeknik Pekerjaan Umum, Ir. Iriandi Aswartika, SP-1. Kegiatan menjadi salah satu upaya Politeknik Pekerjaan Umum untuk mendekatkan proses pendidikan dengan kebutuhan profesi, dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperdalam sekaligus menguji kompetensi sesuai bidang keahliannya.
Uji SKK dilaksanakan bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi Tenaga Kerja Nasional (LSP TKN) yang berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan terakreditasi LPJK. Skema sertifikasi disesuaikan dengan bidang studi dan kebutuhan kompetensi mahasiswa.
Pada tahun ini, mahasiswa dari tiga program studi mengikuti berbagai skema kompetensi. Program Studi Teknologi Konstruksi Bangunan Air (TKBA) mengikuti skema Pelaksana Lapangan Pekerjaan Saluran Irigasi Madya dan Teknisi Survei Terestris.
Sementara itu, mahasiswa Teknologi Konstruksi Jalan dan Jembatan (TKJJ) mengikuti skema Pelaksana Lapangan Pekerjaan Jalan Madya dan Teknisi Survei Terestris. Adapun mahasiswa Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung (TKBG) mengikuti skema Pelaksana Lapangan Pekerjaan Gedung Madya serta Pengawas Pekerjaan Struktur Bangunan Gedung Madya.
Selain kompetensi teknis yang sesuai dengan bidang masing-masing, rangkaian PKT juga memberikan pembekalan kompetensi pendukung yang relevan dengan kebutuhan dunia konstruksi, termasuk Building Information Modelling (BIM) dan keselamatan konstruksi.
Memperkuat Bekal Sebelum Melangkah
Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh kompetensi tambahan sekaligus pengakuan profesional sebelum memasuki dunia kerja. Sertifikasi tidak ditempatkan sekadar sebagai dokumen pelengkap kelulusan, tetapi sebagai bagian dari proses untuk memastikan kemampuan yang telah dipelajari dan dilatih benar-benar memenuhi standar kompetensi.
Iriandi menyampaikan bahwa penyelenggaraan sertifikasi tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen Kementerian Pekerjaan Umum melalui Politeknik Pekerjaan Umum dalam memberikan bekal tambahan kepada mahasiswa.
“Ini salah satu bukti komitmen dari Kementerian PU dan itu salah satu keunggulan dari Kementerian PU khususnya melalui Politeknik PU,” ujar Iriandi.
Menurutnya, nilai sebuah sertifikat tidak terletak pada dokumennya semata, melainkan pada kemampuan yang mendasarinya.
“Sertifikat itu bukti kemampuan dan keunggulan kalian di dalam mengamanahkan ilmu yang kalian peroleh,” katanya.
Karena itu, proses asesmen menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan. Mahasiswa perlu mengikuti setiap tahapan dengan serius, sementara asesor melakukan penilaian secara profesional dan objektif.
Hasil asesmen juga tidak semata-mata menentukan lulus atau tidaknya peserta. Jika masih terdapat kemampuan yang perlu diperkuat, proses tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan pelatihan atau pemenuhan persyaratan berikutnya.
Pengalaman Praktik Menjadi Bekal
Pembekalan menuju sertifikasi juga tidak terlepas dari pengalaman mahasiswa selama menjalani pendidikan. Praktikum, tugas, kegiatan di laboratorium dan workshop, praktik lapangan, hingga pengenalan langsung terhadap berbagai alat dan teknologi konstruksi menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Pengalaman tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dalam situasi yang lebih nyata. Hal ini sejalan dengan karakter pendidikan vokasi yang mempertemukan pembelajaran di kampus dengan kebutuhan pekerjaan di lapangan.
Beragam sarana dan prasarana pembelajaran yang tersedia di Politeknik Pekerjaan Umum turut mendukung proses tersebut. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai konsep dan teori, tetapi juga berkesempatan berinteraksi dengan peralatan serta teknologi yang relevan dengan bidang konstruksi.
Dengan demikian, Uji SKK menjadi bagian dari proses yang melengkapi perjalanan pembelajaran mahasiswa. Kemampuan yang telah dibangun melalui teori dan pengalaman praktik kemudian diuji melalui asesmen berdasarkan standar kompetensi pada bidang masing-masing.
Menyiapkan Profesional Konstruksi
Sebagai perguruan tinggi vokasi di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum, Politeknik Pekerjaan Umum terus berupaya menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan kesiapan untuk mendukung pembangunan infrastruktur.
Melalui PKT dan Uji SKK, proses tersebut diperkuat dengan menghubungkan pembelajaran, pengalaman praktik, dan standar kompetensi profesi. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menyelesaikan masa studi dengan gelar akademik, tetapi juga membawa kompetensi yang telah dipelajari, dilatih, dan diuji.
Iriandi berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk terus mengembangkan diri.
“Kami ingin menyiapkan para SDM dan leader berkualitas,” ujarnya.
Pada akhirnya, perjalanan menuju kelulusan bukan hanya tentang menuntaskan mata kuliah. Ada proses untuk memastikan bahwa pengetahuan telah menjadi keterampilan dan keterampilan tersebut mampu dipertanggungjawabkan.