PUtech

Angkat Konsep Sponge City untuk Mitigasi dan Konservasi Air Tanah, Dosen PUtech Raih Best Paper dan Best Presenter

Bagaimana jika air hujan tidak sekadar dialirkan ke saluran drainase, tetapi juga diserap kembali ke dalam tanah untuk mengurangi risiko banjir sekaligus menjaga cadangan air tanah? 

Gagasan inilah yang mengantarkan dosen Program Studi Teknologi Konstruksi Jalan dan Jembatan (TKJJ) Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech), Fikri Auza’i Ikhwan, S.T., M.Eng., meraih dua penghargaan sekaligus, Best Paper dan Best Presenter, dalam Seminar Nasional Teknik Sipil II (SNTS II) 2026.

Seminar ini diselenggarakan oleh Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT), pada 3 September 2026 di Auditorium H. Anwar Ikraman UMMAT, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Forum akademik ini mempertemukan akademisi, praktisi, peneliti, mahasiswa, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas arah serta tantangan pembangunan infrastruktur Indonesia di masa depan.

Mengusung tema “Sinergi Infrastruktur Hijau melalui Regulasi Adaptif dan Inovasi Teknik Sipil Menuju Indonesia Emas”, seminar ini menempatkan keberlanjutan lingkungan, regulasi adaptif, inovasi teknologi, dan penguatan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Kota yang Bekerja Seperti Spons

Di forum tersebut, Fikri Auza’i Ikhwan mempresentasikan risetnya berjudul “Kajian Konsep Sponge City sebagai Sistem Drainase Berkelanjutan untuk Mitigasi Banjir dan Konservasi Air Tanah di Kota Yogyakarta”.

Penelitian ini berangkat dari dua persoalan yang lazim dihadapi kota besar. Pertama, permukaan kedap air yang kian luas membuat air hujan sulit meresap sehingga banjir mudah terjadi. Kedua, pengambilan air tanah secara berlebihan menggerus cadangan air di bawah kota. Melalui konsep Sponge City, Fikri menawarkan sistem drainase berkelanjutan yang mengurangi limpasan air hujan sekaligus mendukung konservasi air tanah.

Mengambil fokus studi kasus di Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta yang memiliki karakteristik tanah vulkanik Regosol, Fikri mengkaji sebuah skema di mana air hujan tidak sekadar dibuang ke saluran, melainkan diserap kembali ke dalam tanah. Melalui pemodelan dan perhitungan hidrologi yang cermat, Fikri membuktikan bahwa penerapan sistem ini berpotensi menurunkan debit puncak banjir hingga 26,7 persen—yakni dari 3,52 m³/s menjadi 2,58 m³/s pada skenario kala ulang curah hujan 10 tahunan.

Tidak berhenti pada mitigasi banjir, Fikri juga memetakan potensi konservasinya. Ia menemukan bahwa sisa kelebihan limpasan air sebesar 15.451 m³ di kawasan tersebut dapat diserap secara optimal dengan membangun sekitar 3.959 unit sumur resapan. Usulan Fikri ini diproyeksikan mampu menyumbang dan mengisi ulang (recharge) cadangan air tanah hingga 612.000 m³ setiap tahunnya.

Temuan skema Fikri Auza’i Ikhwan ini memberikan manfaat ganda dimana pendekatan ini tidak hanya terbukti efektif dalam memitigasi risiko banjir perkotaan, tetapi juga menjadi benteng pertahanan dalam menjaga kelestarian akuifer air tanah untuk generasi mendatang. 

Melalui penelitian tersebut, Fikri berhasil meraih dua penghargaan sekaligus, yakni Best Paper dan Best Presenter. Capaian ini menjadi pengakuan atas karya ilmiah yang diangkat sekaligus kemampuan Fikri dalam memaparkan gagasan dan hasil penelitiannya di hadapan juri dan peserta.

Harapan untuk Infrastruktur Hijau Indonesia

Atas penghargaan yang diraih, Fikri mengungkapkan rasa syukurnya. Ia menyebut penelitian ini lahir dari kondisi perkembangan infrastruktur hijau di Indonesia dan persoalan banjir perkotaan yang masih sering dijumpai. Bagi Fikri, pengakuan ini sekaligus menjadi motivasi untuk terus menghasilkan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Saya merasa sangat bersyukur atas pencapaian ini, di mana salah satu luaran dari penelitian saya memperoleh pengakuan publik sebagai naskah terbaik. Kajian ini disusun berdasarkan kondisi perkembangan infrastruktur hijau di Indonesia saat ini dan permasalahan yang masih sering kita jumpai, yakni banjir perkotaan.

“Semoga solusi yang saya tawarkan dalam publikasi ini ke depan dapat menjadi jawaban atas permasalahan banjir di Indonesia serta turut menjadi pendorong perkembangan penelitian infrastruktur hijau di Indonesia,” ujar Fikri.

Penghargaan Best Paper dan Best Presenter ini menjadi capaian akademik sekaligus kontribusi dosen PUtech dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian terapan. Melalui riset yang relevan dengan persoalan infrastruktur dan lingkungan, PUtech terus mendukung peningkatan kapasitas dosen serta inovasi demi mewujudkan infrastruktur yang berkelanjutan.