




Setiap 1 Oktober, Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan ini menjadi momentum untuk kembali memahami perjalanan sejarah Pancasila sekaligus meneguhkan kedudukannya sebagai dasar negara dan nilai yang mempersatukan masyarakat Indonesia.
Hari Kesaktian Pancasila berbeda dengan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni. Hari Lahir Pancasila berkaitan dengan momentum penyampaian gagasan dasar negara pada sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, sedangkan Hari Kesaktian Pancasila berkaitan dengan perjalanan sejarah bangsa dalam mempertahankan Pancasila sebagai dasar dan pandangan hidup negara.
Mengapa tanggal 1 Oktober?
Penetapan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila memiliki dasar hukum Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967 tentang Penetapan Tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Keppres tersebut ditetapkan pada 27 September 1967 dan menyebut 1 Oktober sebagai hari yang memiliki kedudukan khusus untuk mempertebal keyakinan terhadap Pancasila sebagai pandangan hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia.
Penetapan Hari Kesaktian Pancasila tidak terlepas dari rangkaian peristiwa politik dan keamanan yang terjadi pada akhir September hingga awal Oktober 1965. Pada saat itu, terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah perwira TNI Angkatan Darat yang kemudian ditemukan di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.
Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia dan kemudian melatarbelakangi peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober sebagai momentum untuk meneguhkan kembali nilai-nilai Pancasila.
Tujuh anggota TNI Angkatan Darat yang gugur kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi, yaitu Jenderal Ahmad Yani, Letnan Jenderal R. Soeprapto, Letnan Jenderal M.T. Haryono, Letnan Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal D.I. Pandjaitan, Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Czi Pierre Andreas Tendean.
Jenazah para korban ditemukan dan diangkat dari sumur di kawasan Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965. Sehari kemudian, pada 5 Oktober 1965, mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Peristiwa tersebut kemudian menjadi bagian penting dari narasi sejarah yang melatarbelakangi peringatan Hari Kesaktian Pancasila.
Tanggal 1 Oktober memiliki posisi penting karena menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang berlangsung setelah kejadian pada malam 30 September 1965.
Peringatan ini kemudian berkembang menjadi momentum untuk mengenang para korban sekaligus meneguhkan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Dalam pelaksanaannya, upacara Hari Kesaktian Pancasila secara nasional diselenggarakan di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta.
Pada 1 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto memimpin upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti. Upacara tersebut diisi antara lain dengan pembacaan Pancasila, Pembukaan UUD 1945, ikrar, serta doa untuk mengenang jasa para pahlawan.
Peringatan tahun ini juga menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah sekaligus memperkuat komitmen terhadap persatuan, kedaulatan, dan nilai-nilai Pancasila sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Memaknai Pancasila di Tengah Kehidupan Masa Kini
Memperingati Hari Kesaktian Pancasila tidak berhenti pada mengenang peristiwa masa lalu. Nilai yang terkandung di dalam Pancasila perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata sesuai dengan tantangan zaman.
Bagi generasi muda, pengamalan Pancasila dapat diwujudkan melalui sikap saling menghargai perbedaan, menjunjung kejujuran, bertanggung jawab, bergotong royong, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi.
Lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam proses tersebut. Kampus bukan hanya tempat untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter, integritas, kepedulian, dan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat.
Nilai-nilai tersebut menjadi semakin relevan bagi Politeknik Pekerjaan Umum sebagai kampus vokasi yang mempersiapkan generasi muda untuk terjun langsung ke dunia kerja dan berkontribusi dalam pembangunan.
Pancasila dan Tanggung Jawab Insan Pekerjaan Umum
Bagi sivitas akademika Politeknik Pekerjaan Umum, semangat memperingati Hari Kesaktian Pancasila juga dapat dimaknai melalui kontribusi di bidang pekerjaan umum dan pembangunan infrastruktur.
Infrastruktur pada akhirnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Karena itu, proses pendidikan dan pengembangan kompetensi di bidang konstruksi tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis, tetapi juga integritas, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian terhadap kepentingan publik.
Nilai kemanusiaan, persatuan, musyawarah, serta keadilan sosial yang terkandung dalam Pancasila dapat menjadi landasan dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu bekerja secara profesional sekaligus memiliki kepedulian terhadap masyarakat.
Bagi mahasiswa Politeknik Pekerjaan Umum, semangat tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana: belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga integritas dalam proses akademik, menghargai perbedaan, bekerja sama, serta mempersiapkan diri agar kelak dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia.
Menjaga Nilai, Melanjutkan Peran
Hari Kesaktian Pancasila mengajak setiap generasi untuk tidak melupakan sejarah sekaligus melihat kembali relevansinya dengan kehidupan hari ini. Sejarah memberikan pelajaran, sementara nilai-nilai Pancasila menjadi salah satu pijakan dalam menentukan bagaimana bangsa Indonesia melangkah ke depan.
Di tengah perubahan zaman dan berbagai tantangan pembangunan, semangat persatuan, gotong royong, integritas, dan kepedulian terhadap sesama tetap memiliki tempat penting.
Bagi insan Politeknik Pekerjaan Umum, memperingati Hari Kesaktian Pancasila menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya tentang membangun fisik dan infrastruktur, tetapi juga tentang menyiapkan manusia yang memiliki kompetensi, karakter, dan tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Selamat Memperingati Hari Kesaktian Pancasila 2026.