Penelitian
Evaluasi Klasifikasi Massa Batuan RMR dan GSI Sebagai Metode PenentuanKualitas Massa Batuan dalam Assesment Stabilitas Lereng Batulempung Bermasalah (Clayshale)
Batulempung bermasalah (clayshale) merupakan salah satu material batuan lemah yang memiliki
potensi tinggi terhadap longsoran karena sifat kembang–susut, sensitivitas terhadap kondisi
basah–kering, serta degradasi cepat akibat pelapukan dan perubahan kadar air maupun oksidasi.
Klasifikasi massa batuan yang umum digunakan seperti Rock Mass Rating (RMR) dan Geological
Strength Index (GSI) sering kali tidak mampu merepresentasikan perilaku batulempung secara
memadai, terutama karena belum memasukkan pengaruh durabilitas dan evolusi mikro–makro
joint yang sangat menentukan penurunan kualitas massa batuan. Penelitian ini bertujuan
mengevaluasi kesesuaian RMR dan GSI sebagai metode penentuan kualitas massa batulempung
dalam perhitungan stabilitas lereng, melalui kombinasi analisis empiris (SMR, SSR), analisis
numerik (PLAXIS dan Phase2), serta verifikasi deformasi aktual menggunakan Terrestrial Laser
Scanner (TLS) dan prototipe Early Warning System (EWS) berbasis mikrokontroler. Data primer
dikumpulkan pada beberapa lokasi lereng batulempung di akses Bendungan Jragung, spillway,
jalan akses, lereng batulempung di Prambanan–Gading, dan bekas tambang Gedangsari,
dilengkapi uji laboratorium (UCS, geser, slake durability dan parameter durabilitas lainnya).
Hasil menunjukkan adanya deviasi signifikan antara faktor keamanan hasil pemodelan initial
condition berbasis GSI/RMR awal (umumnya SF > 1,5–3,0) dengan kondisi aktual di lapangan
yang sudah mengalami longsoran, pada saat GSI lapangan menurun hingga kisaran 15–25 akibat
degradasi durabilitas. Pada beberapa lokasi (akses bendungan KM 6000, KM 5300, akses
spillway, dan KM 1250) pemodelan numerik masih menunjukkan kondisi stabil, sementara
pengukuran TLS memperlihatkan deformasi kumulatif mencapai puluhan hingga lebih dari 150
cm dan keruntuhan lereng yang nyata. Temuan ini menegaskan bahwa klasifikasi massa batuan
eksisting belum memadai untuk memprediksi perilaku jangka panjang lereng batulempung tanpa
koreksi durabilitas dan parameter waktu, sehingga diperlukan formulasi karakterisasi massa
batuan baru (new rock mass classification) yang memasukkan pengaruh slaking dan degradasi
sifat mekanik, serta didukung penerapan EWS sederhana dan sistem pemantauan berbasis
komunitas untuk mengurangi risiko kegagalan lereng