Penelitian
Model Kampus Berkelanjutan, Optimasi Desain dan Pengelolaan Energi Bangunan
Sektor bangunan pendidikan memiliki kontribusi signifikan terhadap peningkatan konsumsi
energi dan emisi karbon, terutama pada kampus-kampus dengan intensitas operasional ruang yang
tinggi. Kondisi ini menuntut pengembangan model kampus berkelanjutan yang mampu
meningkatkan kualitas lingkungan dalam ruang serta mengoptimalkan penggunaan energi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja lingkungan bangunan kampus melalui
pengukuran parameter fisik dan analisis operasional, serta merumuskan strategi peningkatan
berbasis desain arsitektur, sistem ventilasi, dan integrasi energi terbarukan.
Penelitian menggunakan pendekatan campuran melalui pengumpulan data kuantitatif berupa
pengukuran suhu, kelembaban relatif, tingkat pencahayaan, tingkat kebisingan, konsentrasi CO2,
PM2.5, serta kecepatan angin menggunakan instrumen digital seperti TUYA Air Quality Monitor,
UNI-T UT353, Smart Sensor Lux Meter, dan Deli Anemometer. Data dianalisis dengan
membandingkan hasil pengukuran terhadap standar SNI, ASHRAE, dan WHO. Selain itu, data
kualitatif diperoleh melalui wawancara dan observasi untuk memahami perilaku pengguna ruang,
manajemen operasional gedung, dan kondisi infrastruktur. Evaluasi dilakukan pada dua kampus
studi kasus, yaitu Politeknik Pekerjaan Umum dan Universitas Muhammadiyah Malang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ruang belum memenuhi standar kenyamanan.
Suhu ruangan pada semua lantai berada pada kisaran 29–31°C, menunjukkan kinerja HVAC yang
kurang optimal. Kelembaban berkisar di atas 60 persen di sebagian besar lantai, meningkatkan
risiko tumbuhnya jamur dan menurunkan kenyamanan termal. Tingkat pencahayaan tidak merata,
dengan beberapa lantai mengalami kekurangan atau kelebihan cahaya. Tingkat kebisingan di
beberapa lantai melampaui ambang batas 55 dB. Konsentrasi PM2.5 pada seluruh titik pengukuran
berada jauh di atas standar WHO, menandakan kualitas udara yang buruk dan perlunya intervensi
segera. Meskipun demikian, tingkat CO2 menunjukkan ventilasi segar yang memadai. Dari aspek
ruang, tata letak, aksesibilitas, dan estetika memperlihatkan hasil cukup baik, meskipun terdapat
variasi antar lantai.
Temuan ini mengindikasikan perlunya strategi peningkatan kualitas lingkungan dalam ruang
melalui perbaikan sistem ventilasi, integrasi filtrasi PM2.5, peningkatan pencahayaan alami,
penataan ulang desain interior, dan optimasi kinerja HVAC. Selain itu, potensi energi terbarukan
seperti panel surya dan sistem mikrohidro pada kedua kampus memperlihatkan peluang besar untuk
menurunkan beban energi secara berkelanjutan. Penelitian ini menghasilkan model kampus
berkelanjutan yang menggabungkan desain pasif, teknologi monitoring lingkungan berbasis IoT,
dan manajemen energi terbarukan untuk mendukung kenyamanan, kesehatan, serta pengurangan
emisi karbon pada institusi pendidikan tinggi.