


Pembangunan infrastruktur selalu melibatkan kolaborasi panjang sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi calon insan konstruksi. Hal itu dirasakan langsung oleh dua mahasiswi Teknologi Konstruksi Jalan dan Jembatan (TKJJ) Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech), Istiqomah Yundar Setyaningsih (Tya) dan Dina Kartina. Selama enam bulan, keduanya menjalani program magang bersama Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Tengah–DIY di Proyek Pembangunan Jalan Baru Kretek-Girijati, Yogyakarta.
Selama menjalani magang, keduanya tidak hanya mengamati proses pembangunan dari kejauhan. Tya dan Dina turut dilibatkan dalam berbagai tahapan pekerjaan konstruksi, termasuk pada proses erection girder atau pengangkatan dan pemasangan balok jembatan beton yang membutuhkan ketelitian dan koordinasi tinggi.
Pada tahapan tersebut, mereka mendapatkan kesempatan melakukan pengawasan langsung di lapangan dengan mencatat waktu pelaksanaan setiap tahapan pekerjaan dan membandingkannya dengan target jadwal yang telah ditetapkan.
“Kami diberikan tugas untuk melakukan pengawasan terhadap proses erection girder di lapangan. Pengawasan dilakukan dengan mencatat waktu pelaksanaan setiap tahapan, kemudian membandingkannya dengan target schedule pekerjaan,” ujar Tya.
Apabila ditemukan perbedaan antara kondisi aktual dan rencana pelaksanaan, keduanya juga membantu mengidentifikasi besaran deviasi beserta faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan maupun percepatan pekerjaan sebagai bagian dari evaluasi proyek.
Keterlibatan tersebut menjadi pengalaman yang mempertemukan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik di lapangan. Berbagai materi, mulai dari pemodelan struktur menggunakan Autodesk Revit, perhitungan kebutuhan besi, penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), hingga manajemen pengawasan konstruksi, menjadi bekal yang dapat diterapkan secara langsung selama magang.
Bagi Tya, salah satu momen yang paling berkesan adalah ketika dirinya mendapatkan kepercayaan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan proyek di luar tugas utama sebagai mahasiswa magang. Ia dipercaya membantu membagi tugas kepada sesama mahasiswa magang, bahkan ditunjuk sebagai MC dan protokol pada beberapa kegiatan di lingkungan proyek.
“Hal tersebut membuat saya merasa dipercaya dan dapat berkontribusi dalam lingkungan kerja proyek,” ungkapnya.
Kepercayaan tersebut bertambah ketika ia memperoleh kesempatan untuk mendesain kantor pos polisi beserta menyusun RAB secara mandiri berdasarkan ilmu yang dipelajari selama perkuliahan.
“Pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga untuk menerapkan teori ke dalam pekerjaan nyata sekaligus menambah wawasan di dunia konstruksi,” tambah Tya.
Sementara itu, Dina menyimpan kesan tersendiri menjelang berakhirnya masa magang. Menurutnya, lingkungan proyek telah memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran baru yang melengkapi pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan.
“Selama berada di proyek, saya mendapatkan banyak pengalaman, ilmu, serta pembelajaran baru yang tidak sepenuhnya didapatkan di perkuliahan,” ujarnya.
Kedekatan yang terjalin dengan para pekerja maupun staf proyek juga membuatnya merasa nyaman selama menjalani kegiatan magang. Karena itu, berakhirnya masa magang menghadirkan rasa haru tersendiri.
“Ketika kegiatan magang akan berakhir, muncul rasa sedih karena harus meninggalkan lingkungan yang telah memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran berharga bagi saya,” tutur Dina.
Pengalaman Tya dan Dina di Proyek Jalan Baru Kretek-Girijati menunjukkan bahwa pembelajaran vokasi tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan langsung pada proyek-proyek infrastruktur. Kesempatan untuk belajar dari praktisi, memahami dinamika pekerjaan di lapangan, serta menerapkan ilmu secara langsung menjadi bagian penting dalam pembentukan kompetensi mahasiswa.
Keduanya pun berpesan kepada adik tingkat agar mengikuti perkuliahan dengan sungguh-sungguh karena pemahaman gambar teknik, struktur, hingga perhitungan volume akan menjadi dasar penting ketika memasuki dunia magang maupun dunia kerja di bidang konstruksi.
Kisah mereka menjadi gambaran bagaimana pendidikan vokasi memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal dunia konstruksi dan infrastruktur sejak dini. Melalui pengalaman belajar yang terhubung dengan proyek nyata, mahasiswa tidak hanya dibekali pengetahuan akademik, tetapi juga kesempatan untuk bertumbuh, beradaptasi, dan mempersiapkan diri menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur di masa depan.