



Nama Ir. Sutami kini tidak hanya hidup dalam buku sejarah dan deretan infrastruktur monumental di Indonesia, tetapi juga diabadikan sebagai nama Gedung Direktorat Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech). Di lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum, nama besar ini kembali menguat melalui penyelenggaraan Sutami Awards 2025 yang digelar di Auditorium Kementerian PU, Jakarta, Senin (1/11/2025). Sebuah penghormatan bagi sosok yang membangun Indonesia dengan ilmu, integritas, dan pengabdian tanpa pamrih.
Lalu, siapakah sebenarnya Ir. Sutami?
Ir. Sutami lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 19 Oktober 1928. Ia menempuh pendidikan teknik di Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga meraih gelar insinyur. Keistimewaannya bukan hanya pada kecerdasannya, tetapi juga pada kepercayaan besar yang diraih di usia yang sangat muda.
Di usia 28 tahun, Ir. Sutami telah dipercaya menjadi Direktur Utama PN Hutama Karya. Tiga tahun berselang, pada usia 31 tahun, ia ditunjuk sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL). Sebuah pencapaian luar biasa yang jarang terjadi dalam sejarah kepemimpinan nasional.
Ia terus dipercaya menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum selama 12 tahun (1966–1978), menjadikannya menteri PU terlama dalam sejarah kabinet Indonesia.
Nama Sutami lekat dengan lahirnya berbagai infrastruktur ikonik Indonesia. Ia tercatat sebagai pengguna pertama teknologi beton prategang (prestressed concrete) di Indonesia melalui pembangunan Jembatan Semanggi di Jakarta—sebuah terobosan teknik pada masanya karena dibangun tanpa tiang penyangga di tengah.
Ia juga memimpin proyek pembangunan Jembatan Ampera di Palembang, bendungan-bendungan besar, jalan nasional, hingga Gedung Conefo yang kini dikenal sebagai Gedung DPR/MPR RI. Di tangannya, pembangunan Indonesia melaju agresif, dari jalan, jembatan, hingga pembangkit tenaga listrik.
Tak hanya membangun fisik negeri, Sutami juga membangun fondasi dunia pendidikan teknik. Ia merupakan salah seorang penggagas berdirinya Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI). Gagasan itu disampaikan pada awal Maret 1963 dan mendapat persetujuan langsung dari Presiden Soekarno, sekaligus menunjuk Prof. Roosseno Soerjohadikoesoemo sebagai Dekan pertama FTUI.
Setelah tak lagi menjabat sebagai menteri, Sutami kembali ke dunia akademik dan mengajar mata kuliah Teknik Lingkungan (Environmental Engineering) di Universitas Indonesia, bidang yang saat itu masih sangat baru di Indonesia, hingga akhir hayatnya.
Di balik proyek-proyek bernilai besar, Sutami dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana. Rumahnya dikisahkan pernah bocor, menunggak listrik, dan jauh dari kemewahan.
Kesederhanaan dan integritas inilah yang membuatnya begitu dipercaya oleh Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. Ia bekerja tanpa lelah, bahkan hingga kesehatannya terus menurun.
Pada 1978, Sutami memilih mengundurkan diri dari jabatannya karena kondisi kesehatan yang semakin memburuk. Ia diketahui mengidap penyakit liver kronis yang diduga kuat dipicu oleh kelelahan kerja dan kurang memperhatikan kondisi tubuh. Setelah menjalani perawatan panjang, Ir. Sutami wafat pada 13 November 1980 dalam usia 52 tahun.
Meski telah tiada, warisan nilai Ir. Sutami terus hidup. Bagi Kementerian Pekerjaan Umum, ia bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan panutan pengabdian.
Apresiasi Sutami Awards, berasal dari nama Menteri Pekerjaan Umum periode 1964-1978 Ir.Sutami. Penghargaan ini, kata Dody, bukan sekadar penghormatan kepada sejarah, tetapi pengingat bahwa integritas dan ketekunan adalah fondasi yang membuat kementerian ini dipercaya selama delapan dekade.
“Kiranya apresiasi Sutami Award yang diberikan menjadi pemicu dan pemacu untuk terus berinovasi dan berkarya menjadi lebih baik dan lebih unggul, serta memperkuat sinergi kita dalam mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo,” ujar Menteri Dody.
Nama Ir. Sutami juga menjadi tema besar dalam penyelenggaraan Sutami Awards 2025, sebuah apresiasi bagi mitra kerja, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, akademisi, dan insan media yang dinilai berkontribusi nyata dalam pembangunan infrastruktur nasional.
Kini, bagi Politeknik Pekerjaan Umum, nama Sutami yang tersemat pada gedung direktorat bukan sekadar identitas bangunan. Ia menjadi simbol nilai kejujuran, kerja keras, dedikasi, dan pengabdian tanpa pamrih, nilai-nilai yang relevan dengan dunia keteknikan hari ini dan masa depan.
Ir. Sutami membuktikan bahwa insinyur bukan hanya tentang hitung-hitungan teknis, tetapi juga tentang keberanian mengambil tanggung jawab besar, integritas dalam kekuasaan, dan pengabdian untuk rakyat.