PUtech

Pengujian Material hingga Fotogrametri Drone, Mahasiswa PUtech Perkaya Pengalaman Magang di Proyek Bendungan Jragung

Program magang menjadi kesempatan bagi mahasiswa vokasi untuk menghubungkan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik di lapangan. Pengalaman tersebut dirasakan langsung oleh Edsel Dzakwan Fausta Fadillah dan Septivan Mi’rojqiansyah, mahasiswa Program Studi D3 Teknologi Konstruksi Bangunan Air (TKBA) Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech), yang menjalani magang selama enam bulan di Proyek Bendungan Jragung bersama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Proyek Bendungan Jragung sendiri merupakan salah satu proyek strategis nasional yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana sejak Oktober 2020. Bendungan dengan kapasitas tampung sekitar 90 juta meter kubik dan luas genangan 451 hektare ini dirancang untuk memasok air irigasi bagi Daerah Irigasi Jragung seluas 4.528 hektare yang mencakup wilayah Kabupaten Demak dan Grobogan. Pembangunannya dikerjakan oleh konsorsium BUMN yang terdiri atas PT Waskita Karya, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., dan PT Brantas Abipraya, yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026.

Selama menjalani magang, keduanya tidak hanya ditempatkan pada satu bidang pekerjaan. Setiap bulan mereka menjalani rotasi ke berbagai divisi di WIKA sehingga memperoleh pengalaman yang beragam sesuai dengan karakteristik pekerjaan di proyek konstruksi.

Pada divisi Quality Assurance/Quality Control (QA/QC), mereka terlibat dalam pengujian laboratorium dan lapangan terhadap material timbunan bendungan, pengecekan material di stockpile dan quarry, hingga mengikuti joint inspection bersama konsultan dan perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum.

Saat berada di divisi Survey, Edsel dan Septivan melakukan stake out untuk menentukan titik patok, mengecek elevasi timbunan, serta melaksanakan fotogrametri dan dokumentasi progres bendungan menggunakan drone. Sementara di divisi Health, Safety, and Environment (HSE), mereka membantu pelaksanaan refreshment induction, melakukan evaluasi traffic management, inspeksi dump truck, hingga merapikan data pegawai dan subkontraktor untuk kebutuhan administrasi keselamatan kerja.

Memasuki divisi Teknik, keduanya mulai dilibatkan dalam penyusunan desain greenhouse serta melakukan photogrid untuk pengecekan kondisi riprap di area bendungan, dan tentunya banyak kegiatan teknis lainnya.

Bagi Septivan, pengalaman magang menjadi salah satu fase yang membuka wawasannya terhadap dunia kerja. Menurutnya, dinamika pekerjaan di lapangan memberikan banyak pelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.

“Dunia kerja jauh lebih dinamis dari yang dipelajari di kelas. Justru dari proses itulah saya belajar untuk terus beradaptasi dan berkembang. Hadir sepenuhnya dalam setiap proses menjadi pembelajaran yang paling berharga,” ujarnya.

Ia juga mengajak mahasiswa yang akan menjalani magang agar memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin.

“Jangan anggap magang sebagai formalitas. Datanglah dengan rasa ingin tahu yang tinggi, jangan malu bertanya, dan jaga sikap profesional karena pengalaman yang dibangun hari ini akan sangat bermanfaat di masa depan,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Edsel. Menurutnya, magang menjadi ruang belajar untuk mengasah kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan bekerja sama dalam lingkungan profesional.

“Setiap kesempatan, sekecil apa pun, adalah investasi untuk masa depan. Magang menjadi jembatan antara dunia akademik dan dunia kerja, sehingga keberanian mengambil inisiatif dan tanggung jawab sangat diperlukan,” ungkapnya.

Salah satu momen yang paling membekas bagi keduanya adalah ketika pertama kali melihat langsung Bendungan Jragung. Kemegahan proyek tersebut membuat mereka semakin memahami besarnya tanggung jawab seorang insan konstruksi dalam menghadirkan infrastruktur yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pengalaman selama enam bulan tersebut menjadi bekal berharga bagi Edsel dan Septivan untuk memasuki dunia kerja, termasuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, serta memahami pentingnya keselamatan kerja dalam setiap tahapan pembangunan infrastruktur.

Bagi Politeknik Pekerjaan Umum, magang selama enam bulan ini memang menjadi program prioritas, bagian dari proses pembelajaran berbasis praktik yang menjadi ciri utama pendidikan vokasi. Melalui kolaborasi dengan mitra industri dan keterlibatan langsung dalam proyek-proyek strategis nasional, mahasiswa memperoleh pengalaman nyata yang memperkuat kompetensi, karakter profesional, serta kesiapan mereka untuk menjadi sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pembangunan infrastruktur di Indonesia.