



Guna memperkuat komitmen dalam menciptakan lingkungan akademik yang aman, sehat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan, Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) pada Jumat (22/5) di Auditorium Soejono Sosrodarsono, Kampus 2 PUtech.
Kegiatan dibuka secara langsung oleh Direktur Politeknik Pekerjaan Umum, Ir. Brawijaya, S.E., M.Eng.I.E., MSCE, Ph.D., IPU, ASEAN Eng. Dalam sambutannya, Ia menegaskan bahwa keberadaan Satgas PPKPT bukan hanya sebagai pemenuhan regulasi, melainkan bagian penting dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang memberikan rasa aman bagi seluruh sivitas akademika yang tumbuh di dalamnya.
“Perguruan tinggi harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh sivitas akademika untuk belajar, berkembang, dan berkarya. Karena itu, pencegahan dan penanganan kekerasan harus menjadi tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Sosialisasi ini diikuti oleh seluruh unsur sivitas akademika, mulai dari jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada penguatan pemahaman terkait fungsi Satgas PPKPT, mekanisme pelaporan, perlindungan korban, hingga strategi pencegahan kekerasan di lingkungan kampus.
Saat mengawali dan memandu jalannya diskusi, moderator Puspita Karisma Kurniasani, S.T., M.Ars. menyampaikan pengantar yang menggugah kesadaran peserta mengenai realitas penanganan kekerasan di institusi pendidikan. Ia menekankan bahwa kasus kekerasan sering kali tidak bersifat insidental.
“Ada banyak kasus yang tidak muncul ke permukaan karena didiamkan, yang biasa kita sebut sebagai fenomena gunung es. Ini bergerak senyap, namun bisa menjadi ancaman yang luar biasa kalau terus didiamkan. Pertanyaannya, apakah kita sebetulnya tidak tahu, atau kita sudah tahu tapi memilih mendiamkan? Atau jangan-jangan, kita memang tidak tahu bagaimana cara melapor? Di sinilah urgensi keberadaan PPKPT menjadi sangat krusial. Untuk itu, mari kita bersama-sama mendengarkan perspektif dari para narasumber,” papar Puspita saat membuka sesi pemaparan materi.
Narasumber pertama, Edwindha Prafitra Nugraheni, S.Pd., M.Pd., Kons., dosen di Jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) serta dosen Pendidikan Profesi Konselor (PPK) di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Universitas Negeri Semarang (UNNES). Selain mengajar, Ia juga aktif sebagai konselor di Laboratorium BK FIP UNNES dan tergabung dalam Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) UNNES.
Dalam paparannya, Edwindha menjelaskan transformasi regulasi pasca terbitnya Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024. Cakupan penanganan Satgas kini diperluas, tidak hanya terkait kekerasan seksual, tetapi juga meliputi kekerasan fisik, psikis, perundungan, diskriminasi, intoleransi, hingga kebijakan yang mengandung unsur kekerasan. Selain itu, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai alur penanganan kasus yang terintegrasi di tingkat universitas, mulai dari proses pelaporan, verifikasi, investigasi, hingga rekomendasi tindak lanjut sebagai bentuk perlindungan terhadap korban sekaligus penegakan disiplin di lingkungan perguruan tinggi.
Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Cicilia Tanti Utami, M.A., Psikolog dari Universitas Katolik Soegijapranata, membawakan materi mengenai pentingnya membangun relasi sebaya yang sehat di lingkungan kampus. Dr. Cicilia merupakan pakar psikologi anak, remaja, dan keluarga yang memiliki rekam jejak riset mendalam serta disertasi doktoral khusus mengenai resiliensi korban bullying (perundungan). Pengalamannya sebagai bagian dari Satgas PPKPT di kampusnya memberikan perspektif psikologis yang kuat bagi audiens.
Dalam sesi tersebut, beliau menyoroti urgensi kesadaran terhadap batasan diri (boundaries), pencegahan bullying dan cyberbullying, hingga berbagai bentuk kekerasan berbasis gender di ruang digital yang kian marak terjadi belakangan ini.
“Budaya no victim blaming (tidak menyalahkan korban) harus dibangun di lingkungan kampus agar korban merasa aman untuk melapor dan mendapatkan pendampingan psikologis yang layak,” tegas Dr. Cicilia.
Rangkaian acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang dipandu kembali oleh moderator. Sosialisasi ini sukses menjadi momentum penting untuk membangun kesadaran kolektif seluruh sivitas akademika terhadap pentingnya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan suportif.
Melalui kegiatan ini, PUtech menegaskan komitmennya dalam menghadirkan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan yang responsif, profesional, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi kampus sebagai institusi pendidikan vokasi yang tidak hanya unggul dalam bidang infrastruktur, tetapi juga dalam pembentukan budaya akademik yang beretika, aman, dan humanis.