
Dosen Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung Politeknik Pekerjaan Umum, Dr. Taufan Madiasworo, S.T., M.T., resmi meraih gelar Insinyur (Ir.) setelah berhasil menyelesaikan sidang Program Profesi Insinyur (PPI) di Program Studi Program Profesi Insinyur, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Rabu (13/5/2026).
Sidang yang diselenggarakan secara daring ini dipimpin oleh Dr. Ir. Budi Prasetyo Samadikun, S.T., M.Si., IPU., ASEAN Eng. selaku Ketua Penguji sekaligus Pembimbing. Dua penguji anggota yang turut hadir adalah Prof. Dr. Ir. Syafrudin, CES, M.T., IPU., ASEAN Eng. dan Prof. Dr. Ir. Suharyanto, M.Sc., IPU., ASEAN Eng. Program Profesi Insinyur Undip sendiri diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Widayat, S.T., M.T., IPM, ASEAN Eng.
Bagi Dr. Taufan, melanjutkan studi ke jenjang profesi bukan sekadar menambah gelar.
“Mengikuti Program Profesi Insinyur ini didorong motivasi yang kuat untuk terus belajar, sekaligus merupakan upaya untuk terus meningkatkan kompetensi profesional, kode etik profesi insinyur, keselamatan konstruksi, dan untuk menjembatani ilmu akademik dengan kebutuhan konkret di dunia konstruksi.”
Meneliti Program Infrastruktur yang Menyentuh 900 Kecamatan
Karya Tulis ilmiah yang diajukan Dr. Taufan berjudul “Evaluasi Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah Tahun 2018: Pembelajaran dan Strategi Penguatan Infrastruktur Kawasan Perdesaan” — sebuah kajian mendalam terhadap salah satu program infrastruktur berbasis masyarakat di Indonesia.
Program Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah (PISEW) tahun 2018 yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjangkau 900 kecamatan di 33 provinsi dengan total anggaran Rp 540 miliar dari APBN. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas sosial dan ekonomi kawasan perdesaan melalui pembangunan infrastruktur berbasis masyarakat.
Dr. Taufan mengevaluasi sejauh mana program tersebut berhasil mencapai tujuannya, dan hasilnya cukup menarik: secara umum program berjalan efektif — masyarakat terlibat aktif, kelembagaan lokal menguat, dan infrastruktur terbangun nyata dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Namun ada satu catatan penting yang Ia temukan.
Jalan Mendominasi, Sektor Lain Tertinggal
Dari total realisasi program PISEW, sektor jalan menyerap sebesar 88,95% dari anggaran infrastruktur. Sementara sektor air minum dan sanitasi menyerap sebesar 1,66%. Ketimpangan ini, menurut Dr. Taufan, bukan tanpa alasan. Hal ini dikarenakan konektivitas antar desa masih menjadi kebutuhan utama sehingga dengan alokasi pendanaan sebesar Rp600 juta per-kecamatan membuat masyarakat harus memilih infrastruktur yang betul-betul prioritas.
Infrastruktur jalan memang terbukti memberikan dampak besar untuk memperlancar distribusi hasil pertanian, menurunkan biaya angkut, dan mempercepat akses warga ke layanan publik. Namun di sisi lain, kebutuhan akan akses air bersih, sanitasi, dan irigasi masih perlu terus didorong pemenuhannya.
Strategi untuk Perdesaan yang Lebih Kuat
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, Dr. Taufan merumuskan sejumlah strategi yang ia rekomendasikan untuk memperkuat infrastruktur perdesaan ke depan. Intinya: pemilihan jenis infrastruktur harus mempertimbangkan keunikan dan potensi lokal masing-masing daerah, skema pembiayaan perlu diperluas lewat kolaborasi CSR dan kemitraan pemerintah-swasta, melakukan pemenuhan terhadap penyediaan infrastruktur perdesaan berdasarkan dokumen perencanaan PISEW, dan keterlibatan masyarakat harus diperkuat dari tahap perencanaan hingga pemeliharaan — bukan hanya saat pembangunan berlangsung.
Penelitian ini relevan tidak hanya sebagai refleksi atas program yang telah berjalan, tetapi juga sebagai bekal bagi pengambil kebijakan dalam merancang program serupa yang lebih inklusif dan berkelanjutan.