PUtech

Saptataruna: Identitas, Semangat, dan Jiwa Pengabdian Insan Pekerjaan Umum

Tepat pada 3 Desember 1945, sebuah peristiwa heroik terjadi di Gedung Departement Van Verkeer En Waterstaat, yang kini kita kenal dengan Gedung Sate, di Bandung.

Sebanyak 21 pemuda berdiri mempertahankan gedung tersebut. Mereka bukan tentara, melainkan pegawai muda yang memiliki satu tujuan: menjaga kemerdekaan yang baru saja diraih. Bagi mereka, Gedung Sate merupakan simbol kedaulatan yang harus dipertahankan. Gedung ini merupakan kantor kementerian era Hindia Belanda yang bertanggung jawab atas pekerjaan umum, transportasi, dan pengairan, cikal bakal dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Indonesia saat ini.

Pertempuran berlangsung selama tiga jam. Dalam keterbatasan dan ketimpangan kekuatan, mereka tetap bertahan. Hingga akhirnya, tujuh pemuda gugur. Mereka adalah Didi Hardianto Kamarga, Muchtaruddin, Soehodo, Rio Soesilo, Soebengat, Ranu, dan Soerjono. Ketujuhnya kemudian dikenang sebagai Sapta Taruna Pekerjaan Umum—tujuh pemuda yang mengorbankan segalanya demi bangsa.

Semangat Sapta Taruna tidak berhenti di masa lalu. Hingga hari ini, nilai perjuangan mereka terus hidup, termasuk di lingkungan Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech). Sapta Taruna bukan hanya nama, tetapi menjadi simbol karakter yang diharapkan tumbuh dalam diri setiap insan PUtech—berintegritas, disiplin, bertanggung jawab, dan siap mengabdi.

Bagi keluarga besar PUtech, Sapta Taruna adalah pengingat bahwa setiap langkah menuju masa depan berdiri di atas perjuangan para pendahulu. Bahwa pembangunan bukan hanya tentang membangun jalan, jembatan, atau bendungan, tetapi juga tentang membangun karakter, komitmen, dan rasa tanggung jawab kepada masyarakat.

Semangat Sapta Taruna mengajarkan satu hal penting: bahwa pengabdian selalu dimulai dari keberanian untuk mengambil peran. Dan kini, semangat itu hidup dalam setiap insan PUtech yang bersiap melanjutkan estafet pembangunan Indonesia.