


Pengabdian kepada negeri dapat hadir dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui kontribusi langsung dalam penanganan bencana. Hal inilah yang dijalani oleh Fikri Auza’i Ikhwan, S.T., M.Eng., dosen Asisten Ahli Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech), yang mendapat penugasan dari Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia untuk membantu proses pendataan kerusakan pascabencana banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.
Penugasan tersebut menjadi pengalaman yang bermakna bagi Fikri, bukan hanya sebagai bagian dari tugas profesional, tetapi juga sebagai panggilan hati seorang putra daerah. Meski saat ini menetap dan bertugas di Semarang, ikatan emosional dengan tanah kelahirannya tetap kuat.
“Meski raga ini menetap di Semarang, hati saya tak pernah benar-benar pergi dari Aceh. Penunjukan tugas ini menjadi kesempatan berharga yang diberikan Tuhan bagi saya, seorang putra daerah Kota Langsa untuk pulang dan membalas budi pada tanah kelahirannya yang tertimpa bencana,” ungkap Fikri.
Dalam penugasannya, Fikri tergabung dalam Unit Prasarana Strategis yang berfokus pada pendataan kerusakan fasilitas umum, khususnya sektor pendidikan seperti sekolah, madrasah, dan dayah. Ia bersama tim melakukan survei langsung ke berbagai lokasi terdampak di wilayah Aceh Timur, Kota Langsa, dan Aceh Tamiang.
Menurutnya, kondisi di Aceh Tamiang merupakan salah satu yang paling parah dibanding wilayah lainnya. Banyak desa di bantaran sungai mengalami kerusakan berat, dipenuhi lumpur, kayu gelondongan, serta infrastruktur yang rusak, termasuk jembatan dan sekolah.
“Kerusakannya benar-benar tidak bisa dibayangkan. Desa-desa hancur, tebing sungai rusak, jembatan putus, dan banyak sekolah tertutup lumpur. Dari luar bangunannya masih terlihat, tetapi di dalamnya fasilitas seperti kursi, buku, hingga komputer hancur semua,” jelasnya.
Tim yang terdiri dari 21 orang tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk menjangkau wilayah terdampak yang sangat luas. Dalam satu hari, satu tim dapat mengunjungi hingga enam atau tujuh sekolah untuk melakukan pendataan. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 800 titik sekolah di Aceh Tamiang yang mengalami kerusakan dengan tingkat yang berbeda-beda, mulai dari ringan hingga berat.
Selain sekolah, tim juga melakukan pendataan terhadap masjid, pasar, dan puskesmas. Data yang dikumpulkan menjadi dasar penting bagi tahap rehabilitasi dan rekonstruksi (Rehab-Rekon) yang akan dilaksanakan setelah proses pendataan selesai.
Meski menghadapi berbagai tantangan, terutama keterbatasan mobilisasi dan akses transportasi di wilayah bencana, Fikri dan tim tetap berupaya menjalankan tugas secara maksimal. Dukungan masyarakat setempat dan semangat pengabdian menjadi motivasi utama dalam menjalankan misi tersebut.
Fikri berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi nantinya dapat menghadirkan pembangunan yang lebih baik dan berkelanjutan.
“Build Back Better, membangun kembali dengan lebih baik. Saya berharap dengan adanya bencana ini, pembangunan di Aceh Tamiang dapat menjadi lebih maju dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat,” tuturnya.
Kisah pengabdian ini menjadi wujud nyata kontribusi sivitas akademika PUtech dalam mendukung pembangunan nasional, sekaligus mencerminkan semangat pengabdian untuk negeri, khususnya bagi daerah yang membutuhkan.